Bantu kami menyebarkan pesan positif melalui gambar-gambar di bawah ini dengan cara:

  • Pilih tema
  • Pilih gambar yang ingin Anda sebarkan dan arahkan¬†mouse ke gambar tersebut, maka akan muncul beberapa pilihan media sosial yang bisa digunakan untuk menyebarkan gambar tersebut.

Dengan menyebarkannya, Anda sudah membantu membagikan informasi yang benar seputar HIV dan AIDS, dan Anda sudah berkontribusi dalam upaya mengurangi stigma dan diskriminasi di masyarakat. Terima kasih.

Tema:

Banyak informasi yang tidak tepat tentang penularan HIV yang beredar baik melalui pesan singkat maupun lewat sosial media. Mari simak sama-sama beberapa informasi yang penting seputar penularan HIV.

Dengan mencari informasi yang benar, kita ikut mengurangi terjadinya diskriminasi terhadap orang dengan HIV yang disebabkan oleh mitos.

(BUKAN NAMA SEBENARNYA)

Pelaporan kasus dalam berbagai profesional ilmu biasanya disertai dengan penyamaran nama tokoh pelaku maupun korban. Penyamaran biasa dilakukan dengan menyamarkan wajah, menutup mata, membuat inisial nama, menyamarkan suara (dalam media elektronik seperti televisi), serta menyamarkan nama dengan menuliskan (bukan nama sebenarnya) atau (sebut saja namanya…).

Tujuan dari penyamaran itu salah satunya adalah untuk melindungi identitas tokoh pelaku maupun korban.

Namun kemudian penyamaran nama, pemburaman mata ataupun wajah lebih sering ditemui pada berita-berita kriminal sehingga entah bagaimana orang lebih mudah mengidentikkan penyamaran itu hanya untuk para pelaku tindak kejahatan.

Dalam kaitannya dengan kasus anak-anak dengan HIV, hal serupa dilakukan. Penyamaran identitas dilakukan demi mencegah terjadinya stigma dan diskriminasi pada anak-anak ini akibat ‘label HIV’ yang melekat pada mereka.
Lalu beberapa orang berkomentar, “Salah satu foto bertajuk (bukan nama sebenarnya) itu menjadikan anak selayaknya penjahat.”

Sedih mendengarnya, tapi itulah kenyataannya. Belum lagi seorang anak bertanya, kenapa pada sebuah tayangan TV swasta nasional, wajahnya yang ganteng dan menggemaskan harus menjadi buram, padahal ia ingat, pada pengambilan gambar itu wajahnya senyum berseri-seri.

Itulah yang terpaksa dilakukan karena stigma dan diskriminasi masih subur di negeri ini. Seandainya stigma dan diskriminasi tak lagi ada, mungkin senyum manis anak-anak ini bisa menghapus rasa ngeri dan takut yang menyangkut di kepala kita setiap kali mendengar kata HIV.

Seandainya anak-anak ini bisa bercerita lantang tentang siapa diri mereka, apa prestasi mereka, tanpa harus dirahasiakan identitasnya, mungkin orang-orang akan lebih bisa menerima bahwa HIV bukanlah virus mematikan yang menghilangkan harapan mereka yang terinfeksi.

Mungkin orang-orang bisa paham bahwa yang dibutuhkan anak-anak ini adalah kasih sayang, penerimaan, dan dukungan. Bukan diskriminasi.