Berdasarkan Undang-Undang no. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
“ANAK adalah setiap orang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk yang masih dalam kandungan.”

Penentuan batas usia anak tersebut mengacu pada ketentuan dalam Konvensi Hak Anak (KHA) yang telah diratifikasi oleh Indonesia melalui Keputusan Presiden No. 36 Tahun 1990.

Anak yang terdampak HIV adalah anak yang:

  • Tinggal dengan orangtua atau caregiver yang dalam kondisi sakit parah akibat terinfeksi HIV
  • Menjadi yatim, piatu, atau yatim piatu karena AIDS
  • Terinfeksi HIV
  • Mengalami kondisi ekonomi yang memburuk akibat bertambahnya biaya dan atau hilangnya penghasilan orangtua akibat penyakit yang berhubungan dengan AIDS, kematian anggota keluarga, atau karena adanya tambahan biaya karena ada anak yatim piatu lain yang diasuh dalam keluarga tersebut
  • Mengalami stigma dan diskriminasi dan yang terlanggar haknya akibat status HIV mereka atau karena status HIV anggota keluarganya
  • Kehilangan kesempatan untuk mengakses pendidikan, layanan kesehatan, dan akses lain pada layanan yang penting karena status HIV salah satu anggota keluarganya.
  • Infants – Toddler (0-4 tahun) : rentan terhadap resiko kesehatan dan terhadap efek negatif dari layanan kesehatan
  • Preschool : rentan terhadap kekurangan gizi, kekerasan, dan penelantaran, kehilangan stimulasi, dan kesempatan untuk sekolah
  • Masa sekolah (10 tahun – sebelum remaja) : rentan dikeluarkan dari sekolah
  • Semua anak (0-18 tahun) : rentan mengalami stress emosional karena kehilangan pengasuh dan dipindahkan dari rumah dan masyarakat
  • Mereka terinfeksi sejak lahir tetapi seringkali terabaikan dan tidak teridentifikasi sampai mereka sakit parah.
  • Mereka terpaksa membawa beban stigma dan diskriminasi karena status HIV orangtua mereka.
  • Mereka membutuhkan perawatan medis dan dukungan nutrisi; namun orangtua/pengasuh mereka tidak mampu menyediakannya.
  • Orangtua mereka mungkin sudah meninggal atau sedang sakit; sehingga mereka harus diurus oleh anggota keluarga yang lain.
  • Karena stigma dan diskriminasi, mereka tidak mendapatkan akses yang layak untuk layanan kesehatan dan pendidikan.
  • Mereka bisa mengalami stigma atau ditolak oleh keluarga mereka sendiri.
  • Berkurangnya akses dan kualitas makanan dan gizi karena:
  • Kurang tenaga kerja di rumah tangga untuk menambah penghasilan terutama untuk kebutuhan makanan,
  • Kesulitan mengusahakan dan mengakses masukan menambah penghasilan terutama untuk kebutuhan makanan,
  • Penurunan pendapatan menyebabkan keluarga hanya dapat membeli lebih sedikit makanan atau dengan gizi kurang
  • Sumber pendapatan rumah tangga hilang diambil alih oleh saudara, kreditur, atau pihak lain setelah kematian orang tua
  • Tidak cukup dana untuk membeli buku, seragam, perlengkapan sekolah
  • Kebutuhan tenaga kerja yaitu anak di rumah untuk tugas rumah tangga, merawat orang dewasa atau saudara yang sakit, atau bekerja
  • Persepsi bahwa sekolah atau perjalanan ke sekolah terlalu berisiko
  • Persepsi bahwa pendidikan bagi orang miskin tidak relevan sehingga tidak layak untuk menginvestasikan waktu anak untuk sekolah
  • Berkurangnya kapasitas anak untuk berkonsentrasi dan berinteraksi
  • Penghasilan yang kurang untuk membayar biaya pengobatan (obat-obatan, makanan bagi anak dan pengasuh, dll) atau untuk biaya transportasi ke layanan medis
  • Kecil kemungkinannya untuk diimunisasi – tidak dapat menutupi biaya transportasi, pengasuh/orang tua mungkin tidak memiliki waktu, energi atau pengetahuan yang dibutuhkan
  • Kurangnya kemampuan untuk mempertahankan / memperbaiki rumah tempat tinggal
  • Kurangnya penghasilan untuk membayar sewa perumahan atau pemeliharaan tempat tinggal
  • Kehilangan pekerjaan dapat menyebabkan hilangnya tempat tinggal
  • Tempat tinggal penuh sesak dan rentan terhadap penyakit
  • Rasa duka akibat kematian atau sakit yang dialami orangtua
  • Keadaan ekonomi yang memburuk
  • Rasa khawatir akan masa depan
  • Perpisahan dengan saudaranya
  • Harus keluar dari sekolah dan mencari pekerjaan
  • Mengalami stigma, teriolasi dan terdiskriminasi oleh lingkungan, sekolah bahkan keluarga
  • Kurangnya penerimaan cinta, perhatian dan afeksi
  • Mengalami pelecehan seksual maupun fisik
  • Eksploitasi anak untuk bekerja
  • Terlalu dini dalam melakukan hubungan seks, karena kurangnya pendapatan, kehilangan perhatian dan cinta dari orangtua dan proses sosial yang tidak lengkap
  • Pernikahan dini atau dipaksa menikah bagi anak-anak perempuan
  • Rentannya penyakit lain sebagai akibat dari HIV, yaitu TB, penumonia dan lainnya
  • Memperkuat perlindungan dan perawatan terhadap anak yatim piatu dan anak-anak rentan lainnya dalam keluarga besar mereka dan dalam masyarakat.
  • Memperkuat kapasitas perekonomian keluarga dan masyarakat.
  • Meningkatkan kapasitas keluarga dan masyarakat untuk menanggapi kebutuhan piskososial anak yatim piatu, anak yang rentan, dan pengasuh mereka.
  • Menarik benang merah kegiatan pencegahan HIV-AIDS, perawatan, dan dukungan terhadap ODHA, dan usaha untuk mendukung anak yatim piatu dan anak rentan lainnya.
  • Fokus pada anak yang rentan dan masyarakat, tidak hanya pada yang sudah yatim piatu karena AIDS saja.
  • Meyakinkan keikutsertaan yang aktif dan sepenuhnya dari orang muda sebagai bagian dari solusi.
  • Memperkuat sekolah dan membuka akses ke layanan pendidikan.
  • Mengurangi stigma dan diskriminasi.
  • Meningkatkan pengetahuan, pembelajaran, dan pertukaran informasi.
  • Memperkuat mitra dan kemitraan dalam semua tingkatan dan membangun koalisi di antara para pemegang dana / penyandang dana.
  • Meyakinkan penguatan dukungan eksternal dan tidak merusak inisiatif dan motivasi masyarakat.