Kartini, nasibmu hari ini

Sebut saja namanya Kartini (bukan nama sebenarnya). Usianya baru 5 tahun. Ibunya sudah meninggal pada suatu hari di atas tempat tidur kayu tempat Kartini dan ayahnya yang sudah tua duduk-duduk sore itu. Tiga bulan lalu Kartini baru saja didiagnosa terinfeksi HIV. Sang ayah tidak terinfeksi. Ibunya tak sempat didiagnosa karena sudah lebih dulu meninggal.

Ayahnya sudah tua, usianya bahkan lebih cocok untuk menjadi kakek bagi Kartini, sudah 55 tahun. Pekerjaannya hanya memulung sampah dan barang bekas. Bila sang ayah pergi memulung, Kartini kadang dibawa dalam gerobaknya, atau ‘dititipkan’ untuk bermain bersama anak-anak lain di sebuah mushola, tak jauh dari tempat ayahnya berkeliling mencari rejeki.

Kondisi Kartini buruk, berat badannya kurang dari 10 kg. Tiga bulan lalu dia harus dirawat di Puskesmas karena gizi buruk. Pada saat dirawat itulah dokter melakukan pemeriksaan dan akhirnya Kartini terdiagnosa HIV. Sebulan lalu Kartini sudah mulai mengikuti terapi anti-retroviral (ARV). Efeknya belum langsung terlihat. Susu formula bantuan dari Puskesmas pun belum kelihatan efeknya. Entah karena ayahnya kurang telaten memberikan susu dan obat ARV, atau karena memang kondisi Kartini yang memang begitu buruk.

Sore itu langit sudah gelap. Angin mulai bertiup dengan kencang. Aku bertanya pada ayah Kartini, ke mana mereka akan berteduh jika hujan atau malam tiba? “Malam biasanya tidur di kontrakan, tapi sekarang tidak bisa karena ga punya uang untuk membayarnya. Jadi ya kadang tidur di gerobak, atau numpang di mushola.”, jawab ayahnya. Dan sore itu hujan turun dengan deras. Aku, temanku – mas Rudi, Kartini, ayahnya dan orang-orang lain pindah berteduh di bawah teras mushola.

Kartini kecil duduk di atas lantai semen beralas karton. Bajunya yang berhiaskan potongan kain berbentuk bunga sudah kusam dan kotor. Kantong depan bajunya berwarna cokelat, entah terkena tumpahan minuman atau makanan apa. Ayahnya hanya merobek kantong bajunya yang kotor itu saat mas Rudi meminta sang ayah untuk membersihkan atau mengganti bajunya. Kartini hanya terdiam melihat ayahnya merobek kantong bajunya dan membuangnya. Begitu pula kami.

Perut Kartini mengalami asites, pembesaran rongga perut karena bertumpuknya cairan di sana. Lengan dan kakinya kecil. Bola matanya kembali menguning lagi setelah sempat kembali berwarna putih sepulang dirawat di rumah sakit dua minggu lalu. Nafasnya sesak. Tangannya tak berhenti dimasukkan ke dalam hidung, seperti berusaha mengeluarkan sesuatu dari sana, gagal, dan diulangi lagi.¬†Aku berkata pada mas Rudi bahwa sepertinya Kartini semestinya dirawat di rumah sakit, paling tidak untuk menaikkan berat badannya terlebih dahulu. Ayahnya berkata, “Capek.” Lelah karena harus bolak-balik untuk ke rumah sakit, tidak punya ongkos, tidak bisa kerja dan mencari uang. Itu katanya. Kartini hanya diam dan melihat ayahnya, entah dia mengerti atau tidak.

Kartini tidak tersenyum, dahinya lebih sering mengernyit dan suaranya lebih sering terdengar merengek dan menangis, seperti menahan sakit yang rasanya terus menerus. Tiap kali orang asing memanggil namanya, dia menoleh, tapi langsung merengek dan segera memalingkan mukanya.

Kartini kecil mungkin hanya satu dari sekian anak yang bernasib serupa. Terinfeksi HIV dari ibunya, mengalami gizi buruk, dan hidupnya tidak seberuntung anak-anak Indonesia lainnya. Cenderung dijauhi karena dianggap hanya akan merepotkan dan menyusahkan. Tidak bisa dibantu dengan adanya jaminan-jaminan sosial karena ayahnya hanya seorang pemulung asal Boyolali tanpa Kartu Tanda Penduduk Jakarta.

Kartini, nasibmu hari ini…Di saat para wanita Indonesia hari ini merayakan emansipasi wanita dari gelap menuju terang, saling berucap “Selamat Hari Kartini”, berfoto dengan kebaya dan mengadakan sederet lomba, Kartini kecil masih duduk di atas papan di bawah sebuah pohon yang mulai meranggas. Matamu masih menerawang, entah suatu hari nanti engkau akan tahu makna di balik namamu atau tidak.

Kartini, nasibmu hari ini…Entah apakah para Kartini dewasa dengan kelimpahan uang mereka tahu nasibmu di sini. Pun mereka tahu apakah mereka akan mau menolongmu. Entah apakah mereka yang akan membawamu dari gelap menuju terang.

135 tahun Kartini, 21 April 2014